Sylvia Saartje

Entah kenapa tiba-tiba hari ini saya teringat Sylvia Saartje. Memang beberapa hari yang lalu saya nonton dia manggung di depan Stasiun Kota Malang. Ada acara festival band atau semacamnya. Jipi, begitu nona berdarah Ambon ini biasa dipanggil, menutup acara itu lewat tengah malam.

Acara itu sebenarnya menarik. Para musisi senior asal Malang seperti Jipi dan Ian Antono (GodBless) ingin membangkitkan lagi identitas Malang sebagai salah satu barometer musik di Tanah Air selain Jakarta dan Bandung. Sudah ada museum di Jl Citarum yang menampung artefak-artefak musik tanah air. Lumayan lah meski masih menggunakan garasi rumah. Kabarnya sih mau dibikin museum yang betulan.

Ayo kembali ke Nona Saartje. Dia muncul ke panggung untuk  menutup acara, setelah semua yang senior dan yunior naik dan main. Ian Antono dan Achmad Albar main ngos-ngosan meski diiringi band yang amat belia namun mantap, d’Kill. Sekitar 200 an penonton masih tersisa di sekeliling panggung dan manut saja ketika diajak melagukan ‘Rumah Kita’.

Lalu tiga cewek yang menyebut diri sebagai Girls Fight tampil berikutnya dan cukup bisa menggairahkan penonton yang semakin berkurang. Girls Fight turun, giliran panitia membacakan daftar pemenang dan membagikan hadiah. Acara yang sama sekali tidak menarik kecuali bagi para finalis di festival itu. Bergelintir-gelintir penonton pun pilih pulang.

Lalu tibalah giliran sang Lady Rocker naik panggung. Dengan langkah tegap dan cepat, perempuan berambut kriwul panjang itu langsung menyapa penonton. “Majuo po’o Rek… Cek ketok akeh (penontonnya),” katanya dengan suara keras. Siapa lagi Mbak yang harus maju.. Wong penontonnya memang tinggal itu.

Tidak banyak bicara Nona Saartje pun langsung menyanyi ‘I Don`t Wanna Miss a Thing’ punya Aerosmiths. Suaranya masih lantang, masih serak, powernya masih ada. Dia pun masih sanggup mencapai nada-nada tinggi, menyamai Stephen Tyler. Lebih dari lumayan untuk ukuran orang usia 53 tahun. Julukan Lady Rocker kiranya masih layak disandangnya.

Namun saya trenyuh. Nyaris tak ada goyangan penonton mengikuti irama lagu balada yang menjadi sountrack film Armagedon itu. Maklum lah, lagunya tua, penyanyinya tua pula. Mungkin karena itu, tak banyak yang benar-benar mengenal Nona Saartje dan Aerosmiths.

Mungkin salah juga kalau saya berpikiran seperti itu. Malam itu agaknya menjadi malam sial bagi para musisi. Bagaimana tidak, malam itu juga kesebelasan Arema  baru saja ditundukkan rivalnya Sriwijaya SC di Bandung. Arema gagal mengawinkan gelar Liga Super Indonesia yang telah direbut dengan Piala Indonesia. Akhirnya banyak Aremania yang malam itu nonton bareng di sebelah panggung pilih pulang sambil meratapi kekalahan klub kecintaannya.

Saya sendiri bukan tidak suka Aerosmiths. Tapi malam itu sebenarnya saya menunggu Nona Saartje nyanyi ‘Jakarta Blue Jeansku’ atau ‘Biarawati’. Tapi ketika dia melanjutkan aksinya dengan Crazy, masih punya Aerosmiths, saya pilih pulang. Saya malas menunggu, lagi pula ngantuk.

Saya berharap suatu saat masih bisa menikmati Jakarta Blue Jeansku dan Biarawati. Langsung dari Nona Saartje tentunya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s